Bagaimana WALHI Soroti 20 Ekspansi PSN yang Ancam Petani dan Nelayan Jatim?

Percepatan pembangunan infrastruktur dan kawasan industri berskala besar di berbagai daerah sering kali memicu benturan kepentingan dengan keberlanjutan ruang hidup masyarakat lokal. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap dampak sosial dan ekologis dari penetapan kawasan pembangunan khusus di wilayah Jawa Timur. Penilaian kritis ini mendapat penyikapan luas dari jaringan organisasi lingkungan hidup di berbagai daerah, termasuk dukungan moral dari WALHI Jambi dalam menyerukan perlindungan kawasan pangan rakyat dari penggusuran. Pembangunan yang mengorbankan lahan produktif dan wilayah tangkap laut dinilai merusak sendi-sendi kedaulatan pangan nasional. Peninjauan ulang terhadap ekspansi PSN sangat mendesak agar agenda modernisasi tidak menyingkirkan warga asli dari tanah kelahirannya.

Penyebab utama timbulnya gejolak di masyarakat adalah minimnya partisipasi bermakna (meaningful participation) serta pengabaian terhadap analisis dampak lingkungan dalam proses perencanaan proyek. Alih fungsi lahan pertanian subur menjadi kawasan pabrik dan reklamasi pantai untuk pelabuhan industri secara langsung mematikan sumber penghidupan warga. Dalam konteks ini, keberadaan petani dan nelayan yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan pangan justru berada dalam posisi yang sangat rentan terdepak. Dibandingkan memaksakan proyek top-down yang memicu konflik agraria panjang, pemenuhan infrastruktur dasar pertanian dan perikanan rakyat terbukti jauh lebih menyejahterakan warga lokal.

Berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, perlindungan terhadap kawasan pertanian pangan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Aturan tersebut melarang keras alih fungsi lahan produktif yang telah ditetapkan sebagai kawasan ketahanan pangan. Pemerintah daerah dan pusat wajib mengutamakan keselamatan lingkungan serta kesejahteraan warga di atas kepentingan investasi komersial semata. Kepastian hukum ini menjadi landasan kuat untuk mengevaluasi ekspansi PSN agar tidak menabrak aturan hukum yang bertujuan melindungi sumber-sumber kehidupan rakyat.

Sorotan tajam mengenai dampak proyek pembangunan nasional ini mendulang simpati dan dukungan luas dari berbagai serikat buruh, akademisi, dan pemuda. Pernyataan keprihatinan turut disampaikan oleh WALHI Metro yang menegaskan bahwa pengorbanan ruang hidup rakyat atas nama pertumbuhan ekonomi merupakan bentuk ketidakadilan struktur. Para ahli ekonomi kerakyatan mengingatkan bahwa alih fungsi lahan secara masif akan meningkatkan ketergantungan Indonesia pada impor bahan pangan dari luar negeri. Gelombang penolakan ini mempertegas pentingnya mengembalikan arah pembangunan pada prinsip kedaulatan rakyat.

Pada tingkat penerapan di lapangan, perlindungan kawasan pesisir dan agraris dilakukan melalui penguatan hak kelola tradisional dan pemetaan swadaya oleh warga. Penolakan atas dampak buruk ekspansi PSN terbukti mendorong munculnya konsolidasi gerakan rakyat di berbagai kawasan pesisir dan pedesaan. Audit ekologis secara menyeluruh wajib dilakukan untuk menghitung kerugian ekonomi warga akibat hilangnya lahan garapan dan rusaknya ekosistem laut. Langkah protektif ini krusial untuk mencegah pemiskinan sistematis terhadap warga di sekitar lokasi proyek pembangunan.

Secara keseluruhan, evaluasi total terhadap proyek-proyek yang merusak ruang hidup merupakan langkah mutlak demi terwujudnya keadilan sosial. Kolaborasi yang terjalin erat bersama jajaran wilayah seperti WALHI Tangerang mempertegas komitmen untuk terus mendampingi warga dalam mempertahankan hak atas tanah dan air. Perlindungan maksimal bagi petani dan nelayan merupakan kunci utama dalam menjaga kedaulatan pangan serta keutuhan ekosistem bangsa. Mari kita dukung terus perjuangan perlindungan ruang hidup rakyat demi pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

You may also like...